Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Januari 2011

NEGERI PARA BEDEBAH

Puisi Indah karya Adhie Massardi, juru bicara semasa Gus Dur



Ada satu negeri yang dihuni para bedebah

Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Jumat, 07 Januari 2011

Balada Indonesia

Tak ada yang tak aneh di negeri kami.
Tak ada yang tak rusak di negeri kami.
Tak ada yang tak licik di negeri kami.
Tak ada yang tak kotor di negeri kami.

Bahasa kami bukan Indonesia, kami berbahasa kepura-puraan.
Bangsa kami bukan bangsa Indonesia, kami bangsa maling, babu, dan preman.
Penguasa kami maling dan rakyat kami babu di negeri orang atau menodong di pinggiran jalan.
Tumpah darah kami bukan tanah Indonesia, kami rela menumpahkan darah demi uang dan tahta.

Tak ada yang tak aneh di negeri kami.
Tak ada yang tak rusak di negeri kami.
Tak ada yang tak licik di negeri kami.
Tak ada yang tak kotor di negeri kami.

Di negeri kami, maling dilindungi dan dielu-elukan umpama raja.
Di negeri kami, polisi, jaksa, hakim, dewan, menteri, bahkan presiden bisa kami beli.
Di negeri kami, penjara adalah sekedar basa-basi.
Di negeri kami, kebenaran ditutupi dan kedholiman adalah makanan tiap hari.
Di negeri kami, harapan tinggal mimpi sementara kebodohan menidurkan kami.

Kejajar, 7 Januari 2010