Nice Pic...
Puas banget buat Patlabor...
meski sulit, tapi memuaskan dan tidak mengecewakan hasilnya.....
Indonesia sudah terlalu keruh dengan orang-orang bermoral sampah, mari jangan tambah populasi mereka
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) AM Fatwa meminta agar pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Arab dan Malaysia tidak dilanjutkan. 


Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono geram mengetahui kasus penyiksaan yang menimpa Sumiati binti Salan Mustafa, tenaga kerja asal Dompu, Nusa Tenggara Barat, di Arab Saudi.
"Saya ingin ada tim ke Arab Saudi untuk memastikan yang Sumiati mendapatkan mendapatkan perawatan dan pengobatan yang terbaik," kata Presiden dalam rapat kabinet terbatas di Jakarta, siang tadi.
Menurut Presiden, hukum harus ditegakkan. "Saya sudah instruksikan kepada Menteri Luar Negeri untuk menangani masalah ini dengan sangat serius," tegas Presiden.
Nasib Sumiati memang tragis. Alih-alih menangguk banyak riyal, perempuan ini justru disiksa habis-habisan oleh majikannya, Khaled.
Bukan sekali dua kali Sumiati dihajar. Apalagi setelah mengetahui Sumiati tak bisa berbahasa Arab maupun Inggris. Terakhir, bibir perempuan yang bekerja di keluarga Khaled sejak 23 Juli 2010, itu digunting sang majikan.
Sumiati kini dirawat intensif di Rumah Sakit Raja Fahd, Arab Saudi. Menurut Anies Hidayah dari LSM Migran Care, perlakuan yang menimpa Sumiati termasuk pelanggaran hak asasi manusia.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar berjanji memanggil PJTKI yang memberangkatkan Sumiati. Dia juga akan menuntut Khaled bertanggung jawab atas kasus ini.(ICH)
My comment :
Saya mengklasifikasikan kasus ini dalam kasus pelecehan harga diri bangsa kita. Kasus semacam ini memang bukanlah yang pertama, puluhan bahkan ratusan kasus serupa telah banyak terjadi di berbagai belahan dunia menyangkut kasus pelecehan negara lain terhadap warga negara indonesia.
Malaysia adalah salah satu contoh negara yang sering berlaku arogan di perbatasan, Saudi Arabia telah tertulis oleh zaman sebagai negara yang seringkali melakukakan tindak kekerasan terhadap TKI disana. Menyusul kemudian adalah Australia yang sering bersinggungan dengan masalah perbatasan laut. Belum lagi ditambah kasus penjarahan hasil laut kita oleh kapal2 berbendera bangsa lain. Semestinya hanya Tuhan yang tahu seberapa sering bangsa ini dianiaya.
Tidak bisa tidak, kasus ini seharusnya ditangani langsung oleh presiden sebagai penyeru utama dan penjaga harga diri bangsa di mata dunia.
Sayangnya presiden yang kita miliki saat ini adalah SBY yang tak paham betul betapa kasus semacam ini telah melukai sebagian besar warga Indonesia. Kenapa ia masih harus melimpahkan kasus ini kepada menteri luar negeri?
Oh Tuhan!! prosedural memang penting. Tapi ini sungguh keterlaluan, SBY seperti hanya berbasa-basi dan manis di bibir. Demi Tuhan, saya merindukan seorang pemimpin yang menyeru dengan lantang kepada dunia betapa harga diri bangsa ini tidak bisa diinjak-injak begitu saja.
SBY sebagai kapasitasnya sebagai presiden sudah sewajarnya bertemu langsung dengan Raja Saudi Arabia secara lantang dan jantan. Agaknya hal sedserhana semacam itu pun tak mampu ia lakukan karena kecilnya nyali yang dia miliki.

Senin, 15 November 2010 19:28 WIB
ANEH melihat cara polisi menangani keluarnya koruptor pajak Gayus Tambunan keluar dari Rumah Tahanan Markas Komando Brigade Mobil bahkan bisa berjalan-jalan hingga beberapa hari ke Bali. Polisi seperti tidak berupaya untuk secara sungguh-sungguh mengungkap kasus yang mencoreng muka institusi Kepolisian itu, malah mencoba menutupi kasus dengan satu kebohongan dengan kebohongan yang lain.
Mengapa kita katakan “menutup-nutupi”? Karena terlihat sekali polisi mencoba mengulur waktu dan tidak mau menyentuh inti persoalan bisa lolosnya Gayus sampai ke Bali. Polisi selalu berdalih bahwa pihaknya belum yakin bahwa orang yang sedang menonton tenis di Hotel Westin itu adalah Gayus. Polisi lebih berupaya untuk memintai keterangan fotografer Kompas, Agus Susanto, yang seharusnya diberikan penghargaan karena membantu polisi untuk mengungkap ketidakberesan di Rutan Mako Brimob.
Ketika semua orang merasa yakin bahwa orang yang sedang menonton tenis di Hotel Westin Bali itu adalah Gayus, barulah polisi mau menerima fakta bahwa ada seorang tahanannya keluar dari Rutan. Namun polisi masih juga berupaya untuk menutup-nutupi aibnya, dengan mengatakan bahwa Gayus hanya meninggalkan Rutan pada hari Jumat dan itu pun hanya ke rumahnya di kawasan Kelapa Gading.
Polisi seperti tertampar dua kali ketika kemudian terungkap fakta baru bahwa Gayus menonton pertandingan tenis itu sejak hari Kamis. Rekaman video wartawan Kompas Multimedia mendapati bahwa Gayus sedang asyik menikmati pertandingan antara petenis Jepang Kimiko Date Krumm melawan petenis Cina, Li Na.
Dengan fakta baru itu, lalu kebohongan apalagi yang akan dilakukan polisi? Sampai kapan polisi akan mengulur waktu dan tidak berupaya untuk menjelaskan duduk perkara dari lepasnya Gayus? Tidakkah lebih baik bagi polisi untuk mempercepat proses penyidikan agar institusi kepolisian tidak menjadi korban dan akhirnya kehilangan kredibilitasnya?
Para pejabat di Kepolisian Republik Indonesia sepantasnya menyadari bahwa langkah yang dilakukannya sekarang ini bisa memurukkan kredibilitas institusi mereka. Orang akan kehilangan kepercayaan kepada polisi apabila mereka tidak sanggup menjelaskan duduk perkara keluarnya Gayus dari Rutan Mako Brimob.
Apalagi kini terungkap fakta bahwa Gayus begitu sering meninggalkan Rutan. Kepala Rutan sendiri sudah mengakui bahwa ia memang memberikan izin keluar kepada Gayus dengan imbalan uang. Bahkan bukan hanya Gayus, dua tahanan lain yakni Susno Duaji dan Williardi Willard juga menikmati kebebasan dengan frekuensi yang tinggi.
Untuk yang terakhir ini, Gayus tidak hanya pergi ada hari Jumat. Ia sudah tidak kembali ke Rutan Mako Brimob sejak hari Rabu setelah mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hari Kamis pagi, Gayus terbang ke Denpasar dengan menggunakan pesawat Lion Air dan menginap di Hotel Westin. Di sana ia bukan hanya menginap tetapi juga menyaksikan pertandingan tenis yang kebetulan digelar di hotel tersebut. Gayus bahkan menyaksikan pertandingan dua hari berturut-turut sebelum kembali ke Jakarta pada hari Sabtu.
Pada hari Sabtu malam, Gayus masih sempat pergi untuk menghadiri resepsi perkawinan. Di sanalah ia terlihat Wakil Kepala Kepolisian RI Komjen Jusuf Manggarabani, yang kemudian memerintahkan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Komjen Ito Sumardi untuk mengecek keberadaan Gayus. Hasil inspeksi mendadak ke Rutan Mako Brimob itulah terungkap Gayus keluar dari tahanan dan Kabareskrim memerintahkan tim Detasemen Khusus 88 untuk mengembalikan Gayus ke Rutan Mako Brimob.
Semua itu terkonfirmasi ketika Gayus mengaku di persidangan hari Senin bahwa ia memang pergi ke Bali. Ia mengaku stres di dalam tahanan dan melihat tahanan lain juga begitu bebas untuk bisa keluar Rutan, sehingga ia mencoba untuk mengikuti jejak tahanan yang lain.
Pengakuan terbaru Gayus di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sungguh merupakan tamparan ketiga bagi Polri. Sebelum polisi bisa memastikan bahwa dirinya pergi ke Bali, Gayus lebih dulu mengakuinya. Bahkan yang membuat Polri pantas malu adalah pengakuan bahwa bukan hanya dirinya yang biasa meninggalkan rutan.
Polisi tentunya tidak bisa membiarkan mereka kehilangan kewibawaannya. Polisi harus bertindak cepat untuk mengembalikan nama baik institusi kepolisian. Mengembalikan mereka sebagai institusi yang profesional dan bisa mengungkap berbagai kasus termasuk yang mencoreng muka mereka.
Tantangan yang harus bisa dijawab polisi adalah apa motif kepergian Gayus ke Bali. Apakah kepergian itu murni sekadar ingin menghirup kebebasan dan berlibur? Ataukah kepergian ini memiliki agenda tertentu, yakni bertemu dengan pihak-pihak yang terlibat dalam mafia pajak?
Pertanyaan ini pantas untuk bisa diungkap polisi, karena Gayus sendiri sempat mengaku bahwa dirinya tidak menyukai tenis. Ia lebih suka bermain golf dan sepak bola. Pantaslah jika lalu ada orang yang bertanya, kalau tidak suka tenis, mengapa ia menyaksikan pertandingan tenis? Tidakkah ia menyadari bahwa penampilannya yang terbuka di tempat umum sebagai seorang tahanan, justru akan membahayakan dirinya sendiri?
Inilah sebenarnya yang bisa dipergunakan polisi untuk mengembalikan nama baik mereka. Kalau mereka tidak sanggup untuk melakukannya, jangan salahkan apabila masyarakat kehilangan kehormatan kepada polisi. Kalau masyarakat tidak lagi menghormati polisi, maka semua langkah yang dilakukan polisi akan sia-sia. Kalau masyarakat tidak menghormati polisi dan juga penegak hukum, maka hancurlah negara kita ini.